jump to navigation

New! Resep Sapi Lada Hitam February 24, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Okelah sharing saja kalau begitu.
Tags:
2 comments

Pingin cobain sapi lada hitam buatan sendiri. Simak resep berikut ini, yang dikirimkan di milis Resep-Online oleh Retno Triyanti:

Bahan-bahan
1. Sapi has dalam diiris tipis
2. Bawang bombay diiris dadu
3. Paprika merah atau hijau
4. Bawang putih dikeprek cincang
5. Lada hitam

Perendam:
1. Saos tiram
2. Kecap kikkoman
3. Saos tomat
4. Kecap manis
5. Gula pasir atau madu

Cara membuat:
1. Masukkan daging sapi ke dalam bahan perendam selama 1 jam. Ibu dapat pula merendam daging sapi sehari sebelumnya lalu memasukkannya ke dalam lemari es.
2. Gongseng bawang putih yang telah dikeprek cincang lalu masukkan daging beserta bumbu rendamannya.
3. Masak hingga daging menjadi empuk
4. Tambahkan bawang bombay dan paprika, aduk sampai rata.
5. Tambahkan lada hitam
6. Angkat dan hidangkan.

Sapi lada hitam lebih nikmat jika disantap dengan nasi hangat yang masih mengepul. Apalagi jika dimakan bersama keluarga. Berani masak sapi lada hitam sendiri?

Tips Hemat di Musim Hujan February 15, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Tips Keuangan.
4 comments

sumber gambar: http://meekaela.files.wordpress.com/2007/11/hujan1.jpg?w=150&h=150

Belakangan ini cuaca tak menentu. Pagi hari hujan, siang panas, dan sore hujan lagi. Kadang-kadang malam cerah, terkadang juga diguyur hujan lebat. Bagaimana menyiasati kondisi pancaroba seperti sekarang ini agar keuangan kita tidak terganggu? Simak bahasan berikut ini.

Hal yang perlu dicermati pada musim tak menentu seperti ini adalah persiapan. Boleh jadi pada pagi hari matahari muncul sehingga langit tampak cerah. Namun, bukan berarti Anda tidak perlu mempersiapkan segala sesuatunya. Prepare for the worst.

1. Payung /Jas Hujan

Pembaca, jika Anda pergi ke kantor menggunakan mobil, siapkanlah payung besar di jok belakang untuk berjaga-jaga andaikata setibanya di kantor hujan turun dengan derasnya. Tidak mau kan keluar pintu mobil disambut dengan guyuran hujan? :)

Nah, kalau Anda berangkat kerja menggunakan motor, harus lebih hati-hati lagi. Siapkan jas hujan di bagasi motor. Berangkatlah lebih awal supaya tidak terburu-buru di jalan. Kondisi jalan yang licin amat berbahaya. Satu lagi, jangan segan-segan untuk meneduh apabila kondisi jalan semakin tidak memungkinkan untuk dilewati dengan motor.

2. Obat-obatan

Bagi Anda adalah tipe orang yang tidak tahan dingin, hendaknya selalu membawa minyak kayu putih untuk berjaga-jaga kalau-kalau Anda mabuk di perjalanan. Menepilah sebentar bila kepala mulai terasa cenut-cenut. Segera balurkan minyak kayu putih ke leher dan kening.

2. Makan

Pada musim hujan ini sangat disarankan untuk makan sebelum bepergian. Ada dua keuntungan apabila Anda makan terlebih dahulu. Pertama, perut terasa hangat sehingga daya tahan terhadap udara dingin meningkat. Kedua, Anda dapat langsung minum obat tanpa harus makan terlebih dahulu apabila sesampainya di tempat tujuan merasa tidak enak badan. Dengan demikian, penangannya menjadi lebih cepat.

3. Vitamin C

Konsumsi vitamin C apabila Anda hidung mulai gatal dan tersumbat. Itu adalah tanda terkena influenza alias pilek. Sebagaimana kita ketahui, vitamin C berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh. Pada musim hujan biasanya tubuh kita tidak fit. Mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah yang cukup dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

4. Cukup Istirahat

Selain mengkonsumsi vitamin C, kita juga perlu istirahat yang cukup. Jangan paksakan tubuh Anda bekerja ekstra sebagaimana hari-hari biasa. Indikasinya adalah mata yang mengantuk dan pundak yang lelah. Berilah tubuh Anda waktu istirahat yang cukup di malam hari.

Nah, dengan persiapan di atas, insya Allah tubuh kita tetap sehat. Nggak mau dong, gara-gara hujan jadi tidak pergi kerja. Gaji dipotong, kesempatan hilang, penilaian atasan menurun. Lebih-lebih kalau mesti mengeluarkan uang untuk biaya berobat. Asalkan disiplin, mudah-mudahan musim hujan tidak membuat anggaran pengeluaran kita membengkak.

Oiya, ada lagi satu tips. Di musim hujan ini huntinglah barang-barang yang sekiranya akan Anda butuhkan pada musim panas nanti. Misalnya, kipas angin, AC, dispenser, kulkas, dan sebagainya. Adakah yang Anda butuhkan di antaranya? Dengan membelinya hari ini, Anda bisa berhemat sejumlah uang yang lumayan banyak karena pada musim hujan umumnya harga barang-barang tersebut cenderung turun.

Salam,

http://prumpungonline.com

detikcom : Jajan dan Belanja Seru di Pasar Modern February 11, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Uncategorized.
add a comment

title : Jajan dan Belanja Seru di Pasar Modern
summary : Jangan takut becek, ke pasar ini Anda bisa pakai sandal bertumit tinggi. Belanjapun bisa sambil jajan enak. Bukan hanya terkenal sebagai pasar yang bersih tapi semua keperluan tersedia. Dari sandal plastik, tas tangan, sayuran, daging, seafood sampai kopi enak dan jajanan khas Manado. Yuk, mampir! (read more)

detikcom : Cegah Kasus Nova Berulang, Pasang Info Seadanya Saja di FB February 9, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Uncategorized.
add a comment

title : Cegah Kasus Nova Berulang, Pasang Info Seadanya Saja di FB
summary : Bagaimana agar anak Anda aman dalam menggunakan Facebook? Awasi dengan ketat dan hindari pemasangan identitas terlalu detil dalam akunnya. (read more)

Nikmatnya Uang Berkah February 5, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Tips Keuangan.
4 comments

Nikmatnya Uang Berkah

sumber gambar: 2pat.files.wordpress.com/2009/01/money.jpg

Dulu teman saya Jejen pernah bilang, “Gaji berapa juga kalau berkah enak. Kalo nggak berkah? Sebesar apa pun nggak akan cukup.”

Jejen termasuk penganut paham berkahisme . Dia lebih suka ukuran keberkahan daripada kuantitas. Apa sih makna dari kata berkah yang dimaksud teman saya Jejen?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata berkah berarti “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Untuk mendalami makna kata berkah yang disimpulkan dalam kamus ini, simak pendekatan berikut ini.

Berkah identik dengan cukup. Sebagaimana Jejen, saya yakin kita semua sependapat bahwa berapa pun gaji yang didapat diharapkan cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Sebagian orang masih terjebak dalam matematika satu variabel yang mendaulat bahwa uang senilai Rp5.000.000 adalah lebih besar daripada uang sebesar Rp2.500.000. Tidak ada yang salah dengan ini. Namun, di sinilah kesalahannya: dengan matematika satu variabel disimpulkan bahwa orang yang berpenghasilan Rp5.000.000 mestilah lebih sejahtera dibandingkan golongan orang berpenghasilan Rp2.500.000.

Allah pastilah adil dalam hukum-hukumnya. Sekarang saya tanya begini kepada Anda: Andaikata ada 2 orang, si A dan si B, yang sama-sama rajin belajar. Nilainya sama dan kemampuannya pun sama. Selesai kuliah, A bekerja di PT Hijau dengan gaji Rp3.000.000 dan B bekerja sebagai di PT Merah dengan gaji Rp1.500.000. Dengan matematika satu variabel kita terlanjur berkesimpulan bahwa A lebih sejahtera daripada B. Namun, apakah kita berani berkata Allah tidak adil sebab dua orang yang berusaha dan berkemampuan sama mendapatkan imbalan yang berbeda? Dengan matematika satu variabel kita lebih senang kalau keduanya diberikan penghasilan yang sama. Sama rata sama rasa.

Ada tabir lain pemikiran Jejen yang perlu kita buka. Ia tidak menggunakan perhitungan matematika satu variabel dalam ukuran berkah, tetapi dengan rumus matematika dua variabel. Y = aX, itu matematika satu variabel. Y = aX – bZ, inilah matematika dua variabel.

Pada rumusan matematika satu variabel Y = aX, seolah-olah Y hanya bergantung pada besarnya X. Seolah-olah tingginya tingkat kesejahteraan (Y) semata-mata dapat tercapai dengan penghasilan (X) yang semakin besar. Padahal, dilihat dengan kacamata matematika dua variabel, tahulah kita bahwa hal itu naif adanya.

Y = aX – bZ. Artinya, tingkat kesejahteraan (Y) dapat dicapai dengan tingginya penghasilan (X), jika diikuti dengan rendahnya keinginan (Z). Boleh jadi keadilan tersebut terwujud dengan instrumen keinginan ini. Desire atau hasrat untuk memiliki banyak hal dapat mengikis penghasilan. Dengan pendekatan ini tampak makna omong si Jejen yang sederhana itu: penghasilan relatif adanya.

Di sini barangkali letak keadilan tersebut. Bukan semata-mata sama rasa sama rata, melainkan dengan ditaruhnya keinginan ke dalam hati untuk kita kendalikan.

Berkah, dalam konteks ini, berarti kemampuan mengendalikan keinginan. Dengan cara yang sama kita dapat memahami bahwa uang yang berkah mestilah tidak menumbuhkan keinginan yang berlebihan di dalam hati kita[]

Mudahnya Metode Amplop February 4, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Uncategorized.
add a comment

sumber gambar: http://www.kimplicity.com/fkim/blog/wp-content/uploads/2009/01/gmail-icon1.gif

Ada ungkapan bahwa uang itu seperti telur. Kalau dipegang terlalu erat bisa pecah, kalau dipegang terlalu longgar malah jatuh. Terlalu menahan uang  cenderung kikir, sementara terlalu “santai”  menjerumuskan kepada kesulitan.

Salah satu cara ampuh mengendalikan pengeluaran adalah dengan metode amplop. Kalau Anda membuka-buka buku perencanaan keuangan kemungkinan besar akan diperkenalkan metode ini. Sebab, metode ini amat mudah diterapkan.

Metode amplop adalah cara mengalokasikan belanja dengan pemisahan uang secara fisik. Misalkan Anda memperoleh penghasilan Rp3.000.000. Uang itu Anda alokasikan sebesar Rp1.500.000 untuk basic consumption (makan, minum, jajan), sebesar Rp600.000 untuk ongkos kerja, sebesar Rp500.000 untuk ditabung, dan sebesar Rp400.000 untuk entertainment.

Dengan metode amplop ini Anda perlu menyiapkan amplop sebanyak empat buah (sesuai dengan jumlah alokasi penghasilan). Amplop 1 adalah amplop alokasi basic consumption, diisikan uang sebesar Rp1.500.000. Amplop 2 adalah amplop alokasi ongkos kerja, diisikan uang sebesar Rp600.000. Demikian seterusnya hingga amplop 4.

Gunanya amplop ini adalah untuk mengingatkan diri kita apabila hendak melakukan pengeluaran lebih dari alokasi yang sudah kita tetapkan. Untuk mengontrolnya, hendaknya setiap melakukan pengeluaran kita mengambil uang dari amplop yang sesuai. Misalnya, ketika ingin membeli bensin, ambillah uang dari amplop 2. Saat mau nonton ke bioskop, ambillah uang dari amplop 4 (nah, biasanya amplop entertainment ini yang paling cepat “bocor” J). Dengan memasukkan alokasi ke dalam amplop-amplop, kita disadarkan apabila sudah tidak ada dana untuk kegiatan tersebut.

Contohnya pada alokasi pengeluaran sebelumnya. Amplop entertaintment yang awalnya berisi uang Rp400.000 adalah komitmen kita pada awal bulan untuk membatasi pengeluaran kegiatan hiburan. Saat hendak pergi nonton, ambillah uang dari amplop ini. Sebagai contoh, dana yang dibutuhkan sebesar Rp100.000. Pada kesempatan lain kita ingin ikut tur bersama. Dana yang dibutuhkan sebesar Rp250.000 (sudah termasuk makan dan transportasi). Berarti sisa dana di amplop tinggal Rp50.000. Pada kesempatan berikutnya ketika iseng-iseng ingin membeli earphone handphone seharga Rp50.000 kita pun tersadar bahwa itu adalah dana entertainment kita yang terakhir. Artinya, konsekuensi dari membeli earphone tadi adalah tidak bisa membeli gadget lain atau pergi nonton lagi sampai akhir bulan.

Kelebihan metode amplop adalah mudah untuk diaplikasikan. Kekurangannya, bila terdapat banyak pos alokasi kita akan kesulitan mengelola amplop-amplop yang banyak itu. Bagaimanapun, metode ini telah sukses mengilhami banyak orang untuk memperbaiki pola pengeluaran mereka. Selamat mencoba![]

Gadis Cilik di Lampu Merah February 4, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Okelah sharing saja kalau begitu.
add a comment

Tulisan ini saya kirimkan ke RAS FM pada 3 September 2009 lalu, untuk proyek inspirasi hati yang diadakan radio tersebut. Di tengah kesibukan membangun toko online, saya mendapat kabar bahwa RAS FM memuat tulisan berjudul “Gadis Cilik di Lampu Merah” ini pada situs mereka, inspirasihati.com.

RAS FM

Gadis Cilik di Lampu Merah

Hari sudah malam saat mikrolet melintas di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Jalan agak ramai. Membuat laju mikrolet tersendat-sendat dan para penumpang dengan wajah yang lelah terangguk-angguk mengikuti irama laju itu.

Di dalam sana tak terdengar suara orang bercakap-cakap. Hanya sopir yang sesekali memecah kesunyian meskipun terdengar sebagai gumam saja dan penumpang sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap omong si sopir.
Mikrolet tiba di perhentian lampu merah. Seorang gadis cilik dengan kecrek di tangan sekonyong-konyong mendekat. Dari jendela tampak pula anak-anak lain dengan peralatan yang tak begitu berbeda.

Nyanyian si gadis cilik pun melayap ke tengah-tengah penumpang. Tapi tak banyak yang menaruh perhatian terhadapnya. Sekali anak itu menatap penumpang, sekali melihat teman-temannya pada kendaraan barisan belakang. Di antara itu, ia membuang pandangan ke bawah, ke jari-jari kakinya.

Namun, seorang penumpang tampak bergegas mengaduk isi tas saat gadis itu selesai bernyanyi. “Ini,” katanya seraya menyodorkan sebatang cokelat kepadanya. Ia tergagap, tampak bingung apakah akan mengambil cokelat itu.

“Ini,” ulang si ibu. Ia masih juga ragu. Tangan kanannya digoyang-goyangkan tanpa kepastian.

Keadaan itu menarik perhatian lelaki paruh baya yang duduk di depan si ibu. “Ambil, ambil cokelat itu. Rejeki kamu!” katanya mendorong anak itu. Penumpang lain jadi ikut memperhatikan.

Cokelat akhirnya diterimanya dengan wajah berbinar-binar. Ia kemudian berlari cepat sekali, sampai-sampai lupa menyodorkan kantung uang yang sedari tadi dipegangnya. Barangkali lantaran girang hatinya.

“Wah, itu anak lupa minta duit,” kata lelaki paruh baya, mengambil perhatian para penumpang yang masih mengikuti gerak lari si gadis. Ketika anak itu sudah tak tampak, masing-masing menorehkan senyum di wajah yang lelah.

“Kalau dia dapat duit belum tentu akan dibelikan cokelat ya. Pasti sayang rasanya bagi dia,” kata yang lain.

Cokelat itu seperti menyadarkan mereka: ada yang tak boleh hilang dari anak-anak itu betapa pun keras kehidupan menempa. Itulah masa kanak-kanak yang indah, yang penuh kelembutan, yang dahulu juga kita alami dengan perasaan bahagia. Sikap manis kita, apa pun bentuknya, kiranya dapat membantu supaya masa itu tetap indah bagi mereka.

Sementara si ibu masih tertunduk malu, lelaki paruh baya melanjutkan ungkapan-ungkapan dengan mata berbinar. Mikrolet melaju lagi, penumpang terangguk-angguk lagi mengikuti irama laju yang tersendat. Siapa tahu, pada perhentian berikutnya ada lagi cinta yang dapat dibagi.***

RAS FM

Inilah BS1 General Ledger January 31, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Tips Keuangan.
add a comment

BS1 General Ledger
Banyak sekali program aplikasi yang dapat memudahkan kita dalam mengalokasikan gaji bulanan serta mengontrol alokasi tersebut hingga bulan berikutnya. Salah satu software yang saya rekomendasikan adalah BS1 General Ledger.

Beberapa keuntungan menggunakan BS1 General Ledger adalah:
1. User friendly
BS 1 General Ledger mudah digunakan. Tampilan yang tidak “wah” menjadikannya tidak rumit untuk dioperasikan.

2. Ringan
Bobot BS1 General Ledger hanya 6,38 MB. Digunakan di netbook Lenovo milik saya nyaman-nyaman saja.

3. Freeware
BS1 General Ledger bebas diunduh dan dipergunakan oleh siapa pun. Ini merupakan kelebihan tersendiri. Masa sih, microsoft office-nya sudah bajakan, ditambah lagi instalasi aplikasi-aplikasi bajakan :)

BS1 General Ledger dapat Anda unduh di sini. Pada posting mendatang insya Allah saya akan membahas akuntansi dana untuk personal. Mudah-mudahan akuntansi dana ini mempermudah kita untuk mengoperasikan BS1 General Ledger dan mengambil manfaat darinya.

@ Shopaholic: Pisahkan Kebutuhan dan Keinginan January 31, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Tips Keuangan.
1 comment so far

sumber gambar: http://obscurelybeautiful.files.wordpress.com

Apa perbedaan kebutuhan dan keinginan?

Di kantor, di rumah, atau dalam perbincangan sehari-hari, begitu mudah menjawab pertanyaan ini. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi agar hal-hal yang berkaitan dengannya dapat berjalan lancar. Sedangkan keinginan adalah desakan dari dalam diri untuk meraih sesuatu yang pada hakikatnya tidak mutlak mesti terpenuhi.

Mudah mendefinisikannya, memang. Tapi coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita pergi berbelanja. Apakah ketika itu kita dapat membedakan keduanya? Syukurlah kalau dapat membedakannya. Tetapi jika jawabannya tidak atau ragu-ragu, yuk baca tips berikut ini!

Saat pergi berbelanja memang kita kerap kesulitan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di antara barang-barang yang beraneka ragam dan menarik itu, kita menjadi gamang untuk mempertahankan garis tegas antara kebutuhan dan keinginan. Keinginan seolah berperangai laiknya sebuah kebutuhan, merongrong untuk dipenuhi saat itu juga atau meneror diri kita untuk segera memenuhinya pada kesempatan berikutnya. Kalau kita goyah, pengeluaran melambung di luar rencana. Bagaimana menyiasatinya?

Setidaknya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat pergi berbelanja. Cara ini tidak mutlak. Barangkali Anda memiliki jurus lain yang tak kalah ampuh. Namun, perkenankan kami membagi beberapa tips untuk Anda.

Tips saat pergi berbelanja (kami singkat menjadi SPG J):

  1. Selalu membawa catatan.
  2. Persingkat waktu berbelanja.
  3. Gunakan tiga menit pertama saat mulai merasa ragu.
S

elalu Membawa Catatan

Tulislah apa yang hendak Anda beli sebelum pergi berbelanja. Seperti telah kita singgung sebelumnya, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan masih dapat dicermati secara bijak di luar area pusat perbelanjaan. Rumah, sebagai contoh, merupakan salah satu tempat terbaik untuk menganalisis apakah deretan item belanja yang Anda catat pada kertas daftar belanjaan benar-benar dibutuhkan.

Jangan pernah ragu untuk mencoret item belanja yang telah Anda tulis jika kemudian Anda merasa barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan. Semakin cermat koreksi yang Anda lakukan, semakin banyak uang yang Anda selamatkan. Setelah merasa mantap, bawalah catatan itu ke mana Anda hendak berbelanja.

Selesaikah sampai di situ? Belum.

Sesampainya di pusat perbelanjaan luangkan waktu untuk mencari semua item yang telah Anda batalkan dari daftar belanja. Periksa harga masing-masing item dan catatlah.

Kini Anda dapat menghitung harga keinginan yang berhasil Anda pisahkan dari kebutuhan.

Apakah itu sejumlah Rp50.000? Apakah Rp60.000? Atau bahkan mencapai Rp100.000? Tersenyumlah, karena Anda telah berhasil menabungkan keinginan sebanyak itu.

Ataukah justru angka itu terlalu kecil bagi Anda? Jika iya, coba bayangkan kalau uang yang sedikit bagi Anda itu terbuang setiap kali berbelanja. Masihkah uang itu tampak kecil? Betapa pun kecil pemborosan yang terjadi, jika senantiasa terulang niscaya menjadi besar juga.

Tak ada salahnya menyisihkan sebagian uang yang berhasil “diselamatkan” itu untuk membeli satu cone es krim dan setangkup burger sebelum pulang. Anggaplah sebagai perayaan kecil atas penghematan yang telah Anda lakukan.

P

ersingkat Waktu Berbelanja

Ungkapan “time is money” tidak hanya berlaku dalam konteks penghasilan. Dengan setengah guyon, ungkapan ini dapat juga dimaknakan dari sisi pengeluaran. Bahwa berlama-lama menghabiskan waktu di antara deretan pernak-pernik (display) jualan yang menarik itu beresiko menyebabkan besarnya uang yang dibelanjakan.

Display yang beraneka macam itu mempengaruhi pikiran kita untuk mengamatinya, membayangkan betapa bagus kalau memilkinya, dan kemudian meyakinkan diri kita untuk membelinya — kini atau nanti. Bila Anda mulai terbius untuk menuruti keinginan itu, luangkan waktu sejenak untuk mengingat berapa banyak barang milik Anda yang akhirnya bertumpuk di gudang saja. Padahal ketika membelinya boleh jadi Anda merasa benar-benar membutuhkannya (atau setidaknya menggebu-gebu untuk memilikinya).

Time is money! Jadi lekaslah selesaikan setiap sesi belanja. Jangan berlama-lama melihat dan berkeliling di pusat perbelanjaan. Dengan bersegera, kita akan fokus terhadap daftar belanja yang telah kita buat sebelumnya dan pulang tanpa “dendam” untuk membeli beberapa barang lainnya di lain kesempatan.

G

unakan 3 Menit Pertama

Baiklah, kita pun tidak perlu terlalu kaku. Daftar belanja yang telah kita buat sebelumnya boleh jadi belum lengkap. Masih ada beberapa item yang perlu dibeli. Ketika sampai di rak handuk, misalnya, kita merasa ada yang masih perlu dilengkapi dari daftar belanja tersebut. Sebab, melihatnya kita pun teringat pada handuk di rumah yang sudah tipis dan brudul benangnya.

Jika itu yang terjadi, jangan kaku terhadap daftar belanja. Berhentilah sejenak untuk berpikir. Namun tidak perlu juga tergesa-gesa meletakkan handuk tersebut ke dalam trolley belanja. Tiga menit adalah waktu yang cukup untuk mempertimbangkan, sambil membayangkan, apa yang akan Anda lakukan dengan handuk lama sesampainya di rumah. Setelah tiga menit pertama berlalu, dengarkan bisikan yang patut Anda yakini.

Apakah handuk lama akan berkata, “Akhirnya aku bebas tugas!” Ataukah, “Kenapa secepat ini aku diganti?” Anda sendiri yang akan mendengarnya[]

Harga di Mall (Rupanya) Selangit January 31, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Okelah sharing saja kalau begitu.
add a comment

Siang tadi saya dan Wiek jalan-jalan ke Tamini Square. Kami berbelanja beberapa keperluan di salah satu departement store terbesar di Indonesia.

Entah kenapa, sejak membangun PRUMPUNGonline.com saya selalu tertarik bila melihat mainan anak-anak. Beberapa pertanyaan kemudian menghambur di dalam benak saya, seperti bagaimana sistem pembelian mereka, apakah pemasoknya adalah pengrajin/importir langsung, dan berapa margin untungnya.

Yang terakhir adalah misteri bagi saya. Margin keuntungan adalah misteri, sebab yang saya ketahui hanyalah display harga jual tanpa pernah mendapatkan informasi berapa harga beli mereka.

Namun, sore tadi sebuah jawaban terungkap (halah…seperti detektif ya). Kebetulan sekali di pusat perbelanjaan itu saya menemukan boneka muslimah yang juga saya jual di PRUMPUNGonline.com. Sontak saya dan Wiek pun bergegas mencari label harga di sana. Betapa kaget kami bahwa harganya adalah . . . Rp109.900,00/pcs.

Dua kali lipat dari harga jual kami! Kok bisa ya?

Sampai di rumah, saya menghubungi pemasok boneka tersebut. Kebetulan beliau sangat ramah dan tidak keberatan bila diajak sharing lewat sms (maaf ya mbak Umining suka merepotkan tanya ini dan itu :) ). Rupanya, menurut jawaban beliau, ia menjual putus ke departemen store tersebut. “100% lebih dia ngambilnya ……. Tapi itu hak ******,” katanya.

Online = Murah

Mengapa sedemikian besar disparitas harga antara toko offline dan toko online? Menurut pendapat saya, hal tersebut terjadi karena perbedaan pola penjualan. Toko offline terbebankan, setidaknya, oleh biaya gedung dan biaya gaji karyawan. Sebaliknya, toko online hanya terbebani oleh biaya hosting dan biaya gaji pengelola. Bahkan, jumlah pengelola toko online dapat ditekan berkat adanya kemampuan otomasi pelayanan yang disediakan oleh toko online.

Ditambah strategi mendapatkan barang grosir dari penjual pertama, saya semakin optimis telah berhasil menekan harga jual boneka muslimah tersebut.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.