jump to navigation

Gadis Cilik di Lampu Merah February 4, 2010

Posted by Agus Dan Wiek in Okelah sharing saja kalau begitu.
trackback

Tulisan ini saya kirimkan ke RAS FM pada 3 September 2009 lalu, untuk proyek inspirasi hati yang diadakan radio tersebut. Di tengah kesibukan membangun toko online, saya mendapat kabar bahwa RAS FM memuat tulisan berjudul “Gadis Cilik di Lampu Merah” ini pada situs mereka, inspirasihati.com.

RAS FM

Gadis Cilik di Lampu Merah

Hari sudah malam saat mikrolet melintas di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Jalan agak ramai. Membuat laju mikrolet tersendat-sendat dan para penumpang dengan wajah yang lelah terangguk-angguk mengikuti irama laju itu.

Di dalam sana tak terdengar suara orang bercakap-cakap. Hanya sopir yang sesekali memecah kesunyian meskipun terdengar sebagai gumam saja dan penumpang sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap omong si sopir.
Mikrolet tiba di perhentian lampu merah. Seorang gadis cilik dengan kecrek di tangan sekonyong-konyong mendekat. Dari jendela tampak pula anak-anak lain dengan peralatan yang tak begitu berbeda.

Nyanyian si gadis cilik pun melayap ke tengah-tengah penumpang. Tapi tak banyak yang menaruh perhatian terhadapnya. Sekali anak itu menatap penumpang, sekali melihat teman-temannya pada kendaraan barisan belakang. Di antara itu, ia membuang pandangan ke bawah, ke jari-jari kakinya.

Namun, seorang penumpang tampak bergegas mengaduk isi tas saat gadis itu selesai bernyanyi. “Ini,” katanya seraya menyodorkan sebatang cokelat kepadanya. Ia tergagap, tampak bingung apakah akan mengambil cokelat itu.

“Ini,” ulang si ibu. Ia masih juga ragu. Tangan kanannya digoyang-goyangkan tanpa kepastian.

Keadaan itu menarik perhatian lelaki paruh baya yang duduk di depan si ibu. “Ambil, ambil cokelat itu. Rejeki kamu!” katanya mendorong anak itu. Penumpang lain jadi ikut memperhatikan.

Cokelat akhirnya diterimanya dengan wajah berbinar-binar. Ia kemudian berlari cepat sekali, sampai-sampai lupa menyodorkan kantung uang yang sedari tadi dipegangnya. Barangkali lantaran girang hatinya.

“Wah, itu anak lupa minta duit,” kata lelaki paruh baya, mengambil perhatian para penumpang yang masih mengikuti gerak lari si gadis. Ketika anak itu sudah tak tampak, masing-masing menorehkan senyum di wajah yang lelah.

“Kalau dia dapat duit belum tentu akan dibelikan cokelat ya. Pasti sayang rasanya bagi dia,” kata yang lain.

Cokelat itu seperti menyadarkan mereka: ada yang tak boleh hilang dari anak-anak itu betapa pun keras kehidupan menempa. Itulah masa kanak-kanak yang indah, yang penuh kelembutan, yang dahulu juga kita alami dengan perasaan bahagia. Sikap manis kita, apa pun bentuknya, kiranya dapat membantu supaya masa itu tetap indah bagi mereka.

Sementara si ibu masih tertunduk malu, lelaki paruh baya melanjutkan ungkapan-ungkapan dengan mata berbinar. Mikrolet melaju lagi, penumpang terangguk-angguk lagi mengikuti irama laju yang tersendat. Siapa tahu, pada perhentian berikutnya ada lagi cinta yang dapat dibagi.***

RAS FM

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.