Nikmatnya Uang Berkah February 5, 2010
Posted by Agus Dan Wiek in Tips Keuangan.trackback

sumber gambar: 2pat.files.wordpress.com/2009/01/money.jpg
Dulu teman saya Jejen pernah bilang, “Gaji berapa juga kalau berkah enak. Kalo nggak berkah? Sebesar apa pun nggak akan cukup.”
Jejen termasuk penganut paham berkahisme . Dia lebih suka ukuran keberkahan daripada kuantitas. Apa sih makna dari kata berkah yang dimaksud teman saya Jejen?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata berkah berarti “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Untuk mendalami makna kata berkah yang disimpulkan dalam kamus ini, simak pendekatan berikut ini.
Berkah identik dengan cukup. Sebagaimana Jejen, saya yakin kita semua sependapat bahwa berapa pun gaji yang didapat diharapkan cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Sebagian orang masih terjebak dalam matematika satu variabel yang mendaulat bahwa uang senilai Rp5.000.000 adalah lebih besar daripada uang sebesar Rp2.500.000. Tidak ada yang salah dengan ini. Namun, di sinilah kesalahannya: dengan matematika satu variabel disimpulkan bahwa orang yang berpenghasilan Rp5.000.000 mestilah lebih sejahtera dibandingkan golongan orang berpenghasilan Rp2.500.000.
Allah pastilah adil dalam hukum-hukumnya. Sekarang saya tanya begini kepada Anda: Andaikata ada 2 orang, si A dan si B, yang sama-sama rajin belajar. Nilainya sama dan kemampuannya pun sama. Selesai kuliah, A bekerja di PT Hijau dengan gaji Rp3.000.000 dan B bekerja sebagai di PT Merah dengan gaji Rp1.500.000. Dengan matematika satu variabel kita terlanjur berkesimpulan bahwa A lebih sejahtera daripada B. Namun, apakah kita berani berkata Allah tidak adil sebab dua orang yang berusaha dan berkemampuan sama mendapatkan imbalan yang berbeda? Dengan matematika satu variabel kita lebih senang kalau keduanya diberikan penghasilan yang sama. Sama rata sama rasa.
Ada tabir lain pemikiran Jejen yang perlu kita buka. Ia tidak menggunakan perhitungan matematika satu variabel dalam ukuran berkah, tetapi dengan rumus matematika dua variabel. Y = aX, itu matematika satu variabel. Y = aX – bZ, inilah matematika dua variabel.
Pada rumusan matematika satu variabel Y = aX, seolah-olah Y hanya bergantung pada besarnya X. Seolah-olah tingginya tingkat kesejahteraan (Y) semata-mata dapat tercapai dengan penghasilan (X) yang semakin besar. Padahal, dilihat dengan kacamata matematika dua variabel, tahulah kita bahwa hal itu naif adanya.
Y = aX – bZ. Artinya, tingkat kesejahteraan (Y) dapat dicapai dengan tingginya penghasilan (X), jika diikuti dengan rendahnya keinginan (Z). Boleh jadi keadilan tersebut terwujud dengan instrumen keinginan ini. Desire atau hasrat untuk memiliki banyak hal dapat mengikis penghasilan. Dengan pendekatan ini tampak makna omong si Jejen yang sederhana itu: penghasilan relatif adanya.
Di sini barangkali letak keadilan tersebut. Bukan semata-mata sama rasa sama rata, melainkan dengan ditaruhnya keinginan ke dalam hati untuk kita kendalikan.
Berkah, dalam konteks ini, berarti kemampuan mengendalikan keinginan. Dengan cara yang sama kita dapat memahami bahwa uang yang berkah mestilah tidak menumbuhkan keinginan yang berlebihan di dalam hati kita[]

waduh mau amal kok pake itungan bingung dah….
@ Mas Tiyo: hahaha…nggak apa2, hitungan itu buat dasar mengambil keputusan.
Seandainya yang di foto itu aku…bingung dah buat apa itu uang.. HEEhehe
wah..belum pernah ngerasain ya pak?